Spotlight: Royal Arcanum Trilogy


About the series:

Royal Arcanum story is started from the perspective of Cathy Charlotte, who has an unexpected journey of self-discovery that she is a royal descendant. She is a naïve girl in the first two books, until she finds out in the next books that there is more than to this life. She has a royal family from maternal side, where everyone in the family seems hiding a dark secret from each other, dangerous secrets that can empower the unseen world. They fight for hunting down the sacred knowledge that is—Royal Arcanum. She wants to believe that there is good in everything, but her heart is shattered with the evilness that some of her family members are capable of doing. Her journey is involving a group of angels known as Chandelier Order, of whom having omnibus eyes in the story. They are the guardian of the secrets and knowledge that are being hunted by the evil people. The Witch and her demons are also chasing after the royal secrets. There are complications that need to be done. Would Cathy be able to save her family from malevolent souls?

About the publication:

There will be seven books in the series of Royal Arcanum. The first installment is published online since March 2016, and the second installment on December 2016, while the third installment will be released in the end of 2017. 

The books are self-publishing. The e-Book is sold on several online retailers, while the paperback is only available for sale in Indonesia with Print On Demand method. The e-Book price may vary, depends on each retailers, while the paperback is set.

About the writing process:

The first book, Royal Arcanum was written in the end of 2012 for four months, since there was a revision, the first book officially finished on 2013. The second book, White Foxes was written in 2014 for six months, and with the revision, it was finished on 2015. So on, a year later, Royal Arcanum and White Foxes were published publicly in the same year of 2016, but the first publication on 2016 from the same author was The Salt Prejudice, which is a collection of spiritual poems and short stories.

Advertisements

Book Study: Tragedi Setan: Iblis dalam Psikologi Sufi oleh Peter J.Awn

Book Study:

Tragedi Setan: Iblis dalam Psikologi Sufi oleh Peter J.Awn (Buku Terjemahan)

tragedi2bsetan2biblis2bdalam2bpsikologi2bsufi

BOOK REVIEW:

Enam hari saya selesai membaca buku ini, dua minggu sebelumnya saya selalu mempertanyakan konsep spiritual tentang takdir dan pilihan manusia, apakah Allah SWT memberikan manusia kebabasan pilihan, ataukah apapun pilihan yang kita tempuh akan berakhir sesuai yang dikehandaki-Nya? Saya tidak menyangka buku yang lagi-lagi saya pilih ‘secara acak’ dari lemari buku akhirnya menjawab rasa penasaran saya! Nah, saatnya untuk review:

Topik penelitian tentang Tragedi Iblis ini awalnya dipresentasikan untuk Tesis doktoral di Universitas Harvard pada musim semi tahun 1978. Buku yang akhirnya diterbitkan tahun 1983 ini menjabarkan definisi-definisi tentang Iblis dalam pandangan yang penuh dengan kontradiksi. Entahlah apakah Peter J.Awn sendiri bingung dengan apa yang ditulisnya, pemahaman dari pandangan A bisa berlari ke B, lalu si penulis menyalahkan pandangan A dan beralih membenarkan pandangan B, lalu menemukan pandangan C, dan hal yang sama berulang, sampai akhirnya kembali mendukung pemahaman A. Tulisan dalam buku ini tidak konsisten dalam menuliskan pandangan tentang seluk-beluk dunia Iblis dan sejarahnya. Pada akhir ringkasan, Peter J.Awn mengakui bahwa kutipan-kutipan buku yang ia gunakan untuk bukunya memang didasarkan dari masing-masing tulisan para penulis buku yang hanya berpatokan pada ‘asumsi belaka’ karena sesungguhnya tidak ada yang benar-benar mengetahui sejarah kehidupan Iblis, namun semua tahu apa yang menjadi misi abadi sang Iblis, dan semua agama memiliki doktrin yang sama tentang hal itu, yakni mengoda manusia menuju jalan kegelapan.

Buku ini juga menjabarkan pemahaman yang agak ‘twisted’ dan ‘conflicted’ dengan kepercayaan religi yang sudah ada di masyarakat, yaitu saat penulis mendukung pemahaman bahwa Iblis sosok yang patut dikasihani karena terperangkap dalam kutukan abadi dari Tuhan setelah mengalami tragedi pengusiran dari surga karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Nabi Adam. Iblis diasumsikan memiliki mata satu, ini sebagai metafor bahwa Iblis hanya dapat melihat dan memaknai jalan kegelapan dan menghiraukan jalan cahaya.

Si penulis menjabarkan dari sisi pandangan psikologi sufi, dimana benih-benih ajaran Iblis melekat pada sufi, namun sufi memandangnya sebagai kecintaan dan kasih sayang karena memilih untuk berpandangan positif, dan merubah pola berpikir bahwa segala hal terjadi bahkan tragedi dapat terjadi karena kehendak tuhan.

Continue reading

Book Quotes – Reincarnation: The Cycle of Necessity by Manly P. Hall

Greetings!

I’ve just finished reading another great book last week by Manly P. Hall, he was a professor/philosopher in the field of spiritual world. I thought I’d be happy to share on this blog the quotes that I’ve highlighted in purpose for spiritual learning about reincarnation and karma. Anyway, his books are not pretty easy to find around the internet, it took me a long time to find some of his books through link by link on Google, I was actually more like stuck and lost, and surprisingly in the end, I could find his book about reincarnation.

Quotes from book “Reincarnation: The Cycle of Necessity” by Manly P. Hall

  • It is obvious that no one can be compelled to accept a belief because that belief is enlightened. ~By Way of Introduction, Pg.12
  • Literally the word reincarnation means to incarnate again, to be re-embodied, or more accurately, to be re-enflashed; to return after death to the physical of terms. ~Pg.15
  • “Immortality” simply means the deathlessness of the spirit. Immortality is agreed upon by the greater part of the human race, but as the term does not imply any necessity for physical rebirth the belief in immortality is not synonymous with the belief in reincarnation. ~Pg.17
  • “Personality” is the term applied to the complex of mind, emotion, sense, and form. Personalities are those objective parts of man’s composite nature which are discernible or uninformed. To most people reincarnation signifies the re-embodiment of their personalities. This is the key to the confusion in Isis Unveiled wherein Mme. Blavatsky insists that personalities are not reborn except under unusual conditions. ~Pg.18
  • “Memory of Past Lives” : in both the Eastern and Western schools the memory of past lives is awakened only after initiation into the Mysteries. This memory is preserved in the permanent self and may be contacted when the lower personality is lifted up by discipline into communion or participation with the self. For the uninitiated there is no advantage in remembering past personalities. ~Pg.19-20
  • There was no escape from the laws of life and death except the ultimate Nirvana. ~Previous Life of Buddha, Pg.35
  • Wisdom does not bestow immortality upon the body rather it elevates the consciousness, giving patience, and understanding. ~Previous Life of Buddha, Pg.35
  • We all believe what we desire to believe, and those who desire to be immortal attempt to believe immortality into a fact. ~Pg.40
  • To one who has lived long, long life means little; to a world that has experienced much, suffered much, mellowed with ages of existence. ~Pg.40
  • The Koran (Al-Quran) is the final authority of Islam. The enthusiastic moslem declares that not one line, not one character; not even a single punctuation mark of the Koran has ever been changed. They advance this book as the only scriptural writing in the world that has not suffered the corruption of revision or translation. ~Reincarnation in Islam, Pg.61
  • The Koran contains one Sura that is interpreted by numerous modern moslem as authority for the belief in metempsychosis, “God generates beings, and here they return to him.” This statement appears to be specific and incapable of other interpretation, but it is only fair to say that reincarnation is a disputed point in Islamic orthodoxy. ~Pg.62

Continue reading

Book Study: The Garden of Truth by Seyyed Hossein Nasr

Berikut flashback cerita, sebelum saya mempelajari buku The Garden of Truth;

Beberapa hari yang lalu, saya memilih film The Matrix (Keanu Reeves) seri pertama karena sebenarnya sedari kecil hanya menonton sekilas-sekilas, dan juga sering melihat random fans page di facebook mengunggah post tentang kutipan-kutipan film tersebut. Alhasil, saya penasaran untuk menonton film nya dari awal sampai habis.

Beberapa hari kemudian, saya ingin membaca buku berjudul The Garden of Truth karya Seyyed Hossein Nasr, buku tersebut diterjemahkan ke Indonesia dari penerbit Mizan. Saya membutuhkan 9 hari untuk menyelesaikan buku tersebut. Ternyata pengarang buku tersebut adalah seorang professor, dan bahasa-nya agak sulit untuk dipahami, saya membaca berjalan berlahan seperti kura-kura agar dapat memahami maksud dan isi dari buku tersebut.

Sebenarnya, saya merasa seperti mengalami sinkronisasi yang menakjubkan saat di tengah-tengah membaca buku tersebut, karena tidak menyangka, seakan-akan buku dan film yang saya tonton dalam kurun waktu yang berdekatan memiliki persamaan makna walaupun berbeda jubah. Keduanya sama-sama memiliki pesan moral bahwa kita ini sedang tertidur di alam kehidupan sehari-hari, dan akan terbangun saat kita tersadar, dan juga tentang pencarian jati diri kita yang sebenarnya, serta tentang kebenaran. Continue reading

Will be Featured on InstaFreebie: White Foxes Book

instafreebie-logowf-book-promo1

So excited, White Foxes is chosen to be featured on the most thrilling giveaway site, which is instafreebie.com for the section “See it First”.

White Foxes is book two from the Royal Arcanum series, and will be featured on Insta Freebie Blog on Thursday, 22 December 2016.

It’s all about the eBook giveaway during this holiday! You can claim your free copy of White Foxes before the end of January 2017.

So, yeah, I decided to extend the giveaway session, because I am so thrilled to share the newborn of this newest book that I spent two years to finish, and added with the first installment, which is Royal Arcanum novel, where four years had passed with the roller coaster feeling from the writing process.

If you’re interested to get the insight of the story, please feel free to visit this link to claim your own free copy: https://www.instafreebie.com/book/21342

Have a nice holiday for everyone!

Continue reading

“Great books write themselves, only bad books have to be written”

Many writers, including A S Byatt, have said their books sort of wrote themselves, though if you go with F. Scott Fitzgerald’s assertion that “Great books write themselves, only bad books have to be written” then spirits have exclusively great taste.

Writing That Novel: The Paranormal Method by Jennie Gillian

 

Source: http://forbookssake.net/2013/06/21/writing-that-novel-the-paranormal-method/

A Huge eBook Giveaway for Everyone during November!

14900393_1070787866374405_5104622685480142545_n

I will be making a huge giveaway of WHITE FOXES novel during the whole November! Anyone can get the Digital Advance Reader’s Edition, just contact me and I’ll sent your copy via email. There are no rules to get this book, because:

* * *
I want to celebrate my late birthday as well as the birth of the 2nd book in the Royal Arcanum series, which is; WHITE FOXES that will be published in December 2016. This book is the sequel to Royal Arcanum novel, about 18-year-old Cathy Charlotte who moves with her mom to The Bronx, New York to continue her college life along with her best friend, Josh Kingsley. Unexpectedly, their life have to encounter such a phenomenal issue, involving the police, public media, and the bloody secret within one royal family that people are deathly fear of, which is known as White Foxes.

After you contact me via form below, I will add you to the waiting list, and your copy will be delivered to your email in the late November 2016.

\ (•◡•) / I am very excited for this celebration. \ (•◡•) /

* * *

Kutipan Favorit: Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya dari Karya Jalaluddin Rumi – Part 3

Lanjutan kutipan-kutipan favorit oleh Jalaluddin Rumi:

09/11/2016 21:07

Nabi Muhammad bersabda, “Aku adalah pembunuh yang tertawa” yakni ketika aku tertawa di hadapan manusia kasar, aku membunuhnya. Apa yg Nabi maksudkan dengab tertawa adalah berterima kasih, dan tidak mengeluh. ~Hal.263 (Bab 48: Rasa Syukur adalah Pintu Menuju kebaikan

Orang yg menolak memberikan rasa terima kasih dikuasai oleh “kerakusan besar” hingga tdk peduli betapapun banyaknya dia memperoleh, dia merasa rakus lebih banyak lagi. ~Hal.264

Perbedaan antara pujian dan rasa syukur adalah: rasa syukur diungkapkan utk hal-hal baik yg diterimanya. Seseorang tdk dpt berterima kasih utk kecantikan atau keberanian. Pujian merupakan istilah yg lebih umum. ~Hal.265

“Memotong sambungan lebih mudah daripada memotong hubungan.” (Hubungan disini yakni demikian sukar utk memecahkan bisa jadi hubungan pada dunia, yang ke sanalah orang diturunkan dan bagian darinya orang menjadi. ~Hal.266 (Bab 49: Memimpika Air Tidak Meghilangkan Rasa Haus)

09/12/2016 19:26 

Semoga ingatan yg baik dari setiap orang yg berbicara baik tentang kita bertahan lama di dunia. Apabila berbicara baik kepada yg lain, kebaikan akan kembali kepadamu. Kebaikan dan pujian dari yg lain yg engkau katakan, pada hakikatnya adl utk dirimu sendiri. ~Hal.291 (Bab 55: Cintailah Setiap Orang dan Hiduplah di Taman Penuh Kedamaian)

Setiap malaikat memiliki lembaran di dalam dirinya, dari sana sesuai dgn proporsi jajarannya, mampu membaca keadaan dunia dan apa yg akan terjadi. ~Hal.293

Ketika telinga mendengar sesuatu terus-menerus, ia akan menyerap pengalaman sebagaimana dia melihat suatu kenyataan. ~Hal.313 (Bab 61: Antara Ainuddin dan Mu’inuddin)

Segala sesuatu yang “melihat” adalah pengetahuan relijius, segala sesuatu yang “mengetahui” adalah pengetahuan tubuh. ~Hal.328 (Bab 64: Antara Pengetahuan Inderawi da pengetahuan Relijius)

Musuhmu bukanlah daging dan tulangnya, melainkan pikiran jahatnya. ~Hal.336-337 (Bab 68: Musuhmu Bukan Daging dan Tulangnya, tapi Pikiran Jahatnya)

Kutipan Favorit: Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya dari Karya Jalaluddin Rumi – Part 2

Lanjutan kutipan – kutipan favorit dari karya Jalaluddin Rumi “Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya” berikut: 

  1. Terdapat dunia tubuh, imajinasi lain, fantasi lain, dan anggapan lain, tetapi Tuhan melampai segala dunia, tidal di dalam atau tanpanya. Sekarang, pertimbangkan betapa Tuhan mengendalikan imajinasi itu dengan memberi mereka bentuk tanpa sifat, tanpa pena, tanpa alat. Apabila kalian membelah dada dan memisahkannya, lalu mencari pikiran atau gagasan dgn cara mengambilnya bagian demi bagian, kalian tdk akan menemukan pikiran apapun disana. Kalian tdk akan menemukan itu di atas atau di bawah. Kalian tdk akan menemukan anghita badan atau organ, karena mereka tanpa sifat dan tanpa ruang. ~Hal.156 (Bab.23: Gagasan adl Daun Warna-Warni dari Satu Akar Pohon yg Sama)
  2. Kata-kata ini sama halnya dgn Syriac, bagi kalian yg dpt memahami mereka. Berhati-hatilah kalau-kalau kalian berkata paham! Semakon engkau berpikir bahwa dirimu mengerti, semakin jauh engkau dari pemahaman. Memahami berarti tidak paham. Seluruh kesulitan dan masalahmu muncul dari pemahaman itu. Pemahaman itu belenggu, engkau mesti melarikan diri dari itu untuk jadi sesuatu. ~Hal.172 (Bab.26: Kata-Kata Bagaikan Pengantin Perempuan, Pahamilah dengan Cinta)
  3. Hikmah tidak muncul dari dirinya sendiri apabila orang tidak menariknya keluar. Hikmah muncul pada suatu bagian sesuai dengan kekuatan yg menarik hikmah itu keluar dan memberinya makanan…. … …
  4. Orang selalu mencintai yg tdk pernah mereka lihat atau dengar atau pahami. Siang dan malam dia mencarinya. Aku menyerahkan diri kpd yg tdk dpt aku lihat. Orang jd bosan dan membuang yg telah dilihat dan dipahami. Utk alasan inilah filosof menolak gagasan pandangan. Mereka berkata ketika melihat, sangat mungkin bagimu jadi bosan. Tetapi yg ini tdk demikian. Kaum Sunni mengatakan pandangan adl waktu Dia muncul pd satu cara, tetapi Dia hadir pd ribuan cara berbeda setiap saat: setiap hari Dia menciptakan sejumlah ciptaan baru. [QS: 56:29] ~Hal.174 (Bab.26: Kata-Kata Bagaikan Pengantin Perempuan, Pahamilah dengan Cinta) 09/03/2016 17:46 
  5. Imajinasi dan pekerjaan batin manusia seperti jalan masuk tempat seseorang datang pertama kali sebelum memasuki rumah. Seluruh dunia ini seperti rumah, dan segala yg datang ke dalamnya niscaya akan nampak di dalam rumah itu. Ambillah contoh rumah yg kita tempati. Bentuk pertamanya muncul di dalam pikiran arsitek, lalu jadilah rumah…. ….
  6. Apapun yg kau lihat di dunia ini ada di dunia lainnya. ~Hal.212 (Bab 37: Imajinasi adalah Kalan Masuk Menuju yang Nyata)
  7. Nabi bersabda, “Engkau semua menyepakati bahwa di dunia ada seseorang yg menerima wahyu dan tdk semua orang dapat menerima wahyu. Orang yg menerima wahyu memiliki tanda-tanda tertentu pada perilaku, kata-kata, dan wajahnya. Tentu, pada setiap bagiannya terdapat tanda pewahyuan itu. Ketika engkau melihat tanda itu pada diri seseorang, berpalinglah padanya dan ketahuilah bahwa dia cukup berkuasa untuk menjadi pelindungmu.” ~Hal.215 (Bab 38: Perhatian adalah Inti dari Cinta)
  8. “Cinta hanya bisa terlepas oleh cinta lain.”
  9. “Siapa pun yg berharap duduk dengan Tuhan yang Maha Kuasa, biarkan dia duduk dengan para sufi.” ~Hal.218 (Bab 39: Cinta Hanya Bisa Terlepas oleh Cinta Lain)
  10. Aku mengatakan bahwa ketika seorang manusia melupakan apa-apa yg pernah dipelajarinya, dia akan menjadi, sebagaimana awalnya manusia, bersih tanpa kesalahan, sesuai dengan pertanyaan yang belum dipelajari sebelumnya. ~Hal.224 (Bab 40: Ketika Datang di Gunung, Buatlah Suara Indah)
  11. Pembelajaran itu bagaikan ringkasan yg kosong. Ketika pembelajaran mencapai jiwa, ia bagaikan suatu bentuk tak bernyawa yg muncul pada kehidupan. Seluruh pengetahuan ininberasal dari dunia “tanpa bunyi, tanpa suara” dan diterjemahkan ke dalam dunia bunyi dan suata disini…. ….
  12. Orang membutuhkan kerongkongan dan bibir untuk menghasilkan kata-kata, tetapi Tuhan berbicara melampaui hal-hal seperti bibir, mulut, dan kerongkongan. Maka Nabi Muhammad berbincang dengan Tuhan di dalam dunia tanpa bunyi, tanpa suara dengan cara yg tdk dapat dipahami oleh khayalan intelek-intelek fana semacam itu…. ….
  13. sebagaimana Nabi Muhammad bersabda, “Aku diutus untuk menyeru.” ~Hal.232 (Bab 42: Pengetahuan Berasal dari Dunia tanpa Bunyi, tanpa Suara, tanpa kata-kata) 09/08/2016 00:03