Book Quotes – Reincarnation: The Cycle of Necessity by Manly P. Hall

Greetings!

I’ve just finished reading another great book last week by Manly P. Hall, he was a professor/philosopher in the field of spiritual world. I thought I’d be happy to share on this blog the quotes that I’ve highlighted in purpose for spiritual learning about reincarnation and karma. Anyway, his books are not pretty easy to find around the internet, it took me a long time to find some of his books through link by link on Google, I was actually more like stuck and lost, and surprisingly in the end, I could find his book about reincarnation.

Quotes from book “Reincarnation: The Cycle of Necessity” by Manly P. Hall

  • It is obvious that no one can be compelled to accept a belief because that belief is enlightened. ~By Way of Introduction, Pg.12
  • Literally the word reincarnation means to incarnate again, to be re-embodied, or more accurately, to be re-enflashed; to return after death to the physical of terms. ~Pg.15
  • “Immortality” simply means the deathlessness of the spirit. Immortality is agreed upon by the greater part of the human race, but as the term does not imply any necessity for physical rebirth the belief in immortality is not synonymous with the belief in reincarnation. ~Pg.17
  • “Personality” is the term applied to the complex of mind, emotion, sense, and form. Personalities are those objective parts of man’s composite nature which are discernible or uninformed. To most people reincarnation signifies the re-embodiment of their personalities. This is the key to the confusion in Isis Unveiled wherein Mme. Blavatsky insists that personalities are not reborn except under unusual conditions. ~Pg.18
  • “Memory of Past Lives” : in both the Eastern and Western schools the memory of past lives is awakened only after initiation into the Mysteries. This memory is preserved in the permanent self and may be contacted when the lower personality is lifted up by discipline into communion or participation with the self. For the uninitiated there is no advantage in remembering past personalities. ~Pg.19-20
  • There was no escape from the laws of life and death except the ultimate Nirvana. ~Previous Life of Buddha, Pg.35
  • Wisdom does not bestow immortality upon the body rather it elevates the consciousness, giving patience, and understanding. ~Previous Life of Buddha, Pg.35
  • We all believe what we desire to believe, and those who desire to be immortal attempt to believe immortality into a fact. ~Pg.40
  • To one who has lived long, long life means little; to a world that has experienced much, suffered much, mellowed with ages of existence. ~Pg.40
  • The Koran (Al-Quran) is the final authority of Islam. The enthusiastic moslem declares that not one line, not one character; not even a single punctuation mark of the Koran has ever been changed. They advance this book as the only scriptural writing in the world that has not suffered the corruption of revision or translation. ~Reincarnation in Islam, Pg.61
  • The Koran contains one Sura that is interpreted by numerous modern moslem as authority for the belief in metempsychosis, “God generates beings, and here they return to him.” This statement appears to be specific and incapable of other interpretation, but it is only fair to say that reincarnation is a disputed point in Islamic orthodoxy. ~Pg.62

Continue reading

Advertisements

“Great books write themselves, only bad books have to be written”

Many writers, including A S Byatt, have said their books sort of wrote themselves, though if you go with F. Scott Fitzgerald’s assertion that “Great books write themselves, only bad books have to be written” then spirits have exclusively great taste.

Writing That Novel: The Paranormal Method by Jennie Gillian

 

Source: http://forbookssake.net/2013/06/21/writing-that-novel-the-paranormal-method/

Kutipan Favorit: Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya dari Karya Jalaluddin Rumi – Part 3

Lanjutan kutipan-kutipan favorit oleh Jalaluddin Rumi:

09/11/2016 21:07

Nabi Muhammad bersabda, “Aku adalah pembunuh yang tertawa” yakni ketika aku tertawa di hadapan manusia kasar, aku membunuhnya. Apa yg Nabi maksudkan dengab tertawa adalah berterima kasih, dan tidak mengeluh. ~Hal.263 (Bab 48: Rasa Syukur adalah Pintu Menuju kebaikan

Orang yg menolak memberikan rasa terima kasih dikuasai oleh “kerakusan besar” hingga tdk peduli betapapun banyaknya dia memperoleh, dia merasa rakus lebih banyak lagi. ~Hal.264

Perbedaan antara pujian dan rasa syukur adalah: rasa syukur diungkapkan utk hal-hal baik yg diterimanya. Seseorang tdk dpt berterima kasih utk kecantikan atau keberanian. Pujian merupakan istilah yg lebih umum. ~Hal.265

“Memotong sambungan lebih mudah daripada memotong hubungan.” (Hubungan disini yakni demikian sukar utk memecahkan bisa jadi hubungan pada dunia, yang ke sanalah orang diturunkan dan bagian darinya orang menjadi. ~Hal.266 (Bab 49: Memimpika Air Tidak Meghilangkan Rasa Haus)

09/12/2016 19:26 

Semoga ingatan yg baik dari setiap orang yg berbicara baik tentang kita bertahan lama di dunia. Apabila berbicara baik kepada yg lain, kebaikan akan kembali kepadamu. Kebaikan dan pujian dari yg lain yg engkau katakan, pada hakikatnya adl utk dirimu sendiri. ~Hal.291 (Bab 55: Cintailah Setiap Orang dan Hiduplah di Taman Penuh Kedamaian)

Setiap malaikat memiliki lembaran di dalam dirinya, dari sana sesuai dgn proporsi jajarannya, mampu membaca keadaan dunia dan apa yg akan terjadi. ~Hal.293

Ketika telinga mendengar sesuatu terus-menerus, ia akan menyerap pengalaman sebagaimana dia melihat suatu kenyataan. ~Hal.313 (Bab 61: Antara Ainuddin dan Mu’inuddin)

Segala sesuatu yang “melihat” adalah pengetahuan relijius, segala sesuatu yang “mengetahui” adalah pengetahuan tubuh. ~Hal.328 (Bab 64: Antara Pengetahuan Inderawi da pengetahuan Relijius)

Musuhmu bukanlah daging dan tulangnya, melainkan pikiran jahatnya. ~Hal.336-337 (Bab 68: Musuhmu Bukan Daging dan Tulangnya, tapi Pikiran Jahatnya)

Kutipan Favorit: Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya dari Karya Jalaluddin Rumi – Part 2

Lanjutan kutipan – kutipan favorit dari karya Jalaluddin Rumi “Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya” berikut: 

  1. Terdapat dunia tubuh, imajinasi lain, fantasi lain, dan anggapan lain, tetapi Tuhan melampai segala dunia, tidal di dalam atau tanpanya. Sekarang, pertimbangkan betapa Tuhan mengendalikan imajinasi itu dengan memberi mereka bentuk tanpa sifat, tanpa pena, tanpa alat. Apabila kalian membelah dada dan memisahkannya, lalu mencari pikiran atau gagasan dgn cara mengambilnya bagian demi bagian, kalian tdk akan menemukan pikiran apapun disana. Kalian tdk akan menemukan itu di atas atau di bawah. Kalian tdk akan menemukan anghita badan atau organ, karena mereka tanpa sifat dan tanpa ruang. ~Hal.156 (Bab.23: Gagasan adl Daun Warna-Warni dari Satu Akar Pohon yg Sama)
  2. Kata-kata ini sama halnya dgn Syriac, bagi kalian yg dpt memahami mereka. Berhati-hatilah kalau-kalau kalian berkata paham! Semakon engkau berpikir bahwa dirimu mengerti, semakin jauh engkau dari pemahaman. Memahami berarti tidak paham. Seluruh kesulitan dan masalahmu muncul dari pemahaman itu. Pemahaman itu belenggu, engkau mesti melarikan diri dari itu untuk jadi sesuatu. ~Hal.172 (Bab.26: Kata-Kata Bagaikan Pengantin Perempuan, Pahamilah dengan Cinta)
  3. Hikmah tidak muncul dari dirinya sendiri apabila orang tidak menariknya keluar. Hikmah muncul pada suatu bagian sesuai dengan kekuatan yg menarik hikmah itu keluar dan memberinya makanan…. … …
  4. Orang selalu mencintai yg tdk pernah mereka lihat atau dengar atau pahami. Siang dan malam dia mencarinya. Aku menyerahkan diri kpd yg tdk dpt aku lihat. Orang jd bosan dan membuang yg telah dilihat dan dipahami. Utk alasan inilah filosof menolak gagasan pandangan. Mereka berkata ketika melihat, sangat mungkin bagimu jadi bosan. Tetapi yg ini tdk demikian. Kaum Sunni mengatakan pandangan adl waktu Dia muncul pd satu cara, tetapi Dia hadir pd ribuan cara berbeda setiap saat: setiap hari Dia menciptakan sejumlah ciptaan baru. [QS: 56:29] ~Hal.174 (Bab.26: Kata-Kata Bagaikan Pengantin Perempuan, Pahamilah dengan Cinta) 09/03/2016 17:46 
  5. Imajinasi dan pekerjaan batin manusia seperti jalan masuk tempat seseorang datang pertama kali sebelum memasuki rumah. Seluruh dunia ini seperti rumah, dan segala yg datang ke dalamnya niscaya akan nampak di dalam rumah itu. Ambillah contoh rumah yg kita tempati. Bentuk pertamanya muncul di dalam pikiran arsitek, lalu jadilah rumah…. ….
  6. Apapun yg kau lihat di dunia ini ada di dunia lainnya. ~Hal.212 (Bab 37: Imajinasi adalah Kalan Masuk Menuju yang Nyata)
  7. Nabi bersabda, “Engkau semua menyepakati bahwa di dunia ada seseorang yg menerima wahyu dan tdk semua orang dapat menerima wahyu. Orang yg menerima wahyu memiliki tanda-tanda tertentu pada perilaku, kata-kata, dan wajahnya. Tentu, pada setiap bagiannya terdapat tanda pewahyuan itu. Ketika engkau melihat tanda itu pada diri seseorang, berpalinglah padanya dan ketahuilah bahwa dia cukup berkuasa untuk menjadi pelindungmu.” ~Hal.215 (Bab 38: Perhatian adalah Inti dari Cinta)
  8. “Cinta hanya bisa terlepas oleh cinta lain.”
  9. “Siapa pun yg berharap duduk dengan Tuhan yang Maha Kuasa, biarkan dia duduk dengan para sufi.” ~Hal.218 (Bab 39: Cinta Hanya Bisa Terlepas oleh Cinta Lain)
  10. Aku mengatakan bahwa ketika seorang manusia melupakan apa-apa yg pernah dipelajarinya, dia akan menjadi, sebagaimana awalnya manusia, bersih tanpa kesalahan, sesuai dengan pertanyaan yang belum dipelajari sebelumnya. ~Hal.224 (Bab 40: Ketika Datang di Gunung, Buatlah Suara Indah)
  11. Pembelajaran itu bagaikan ringkasan yg kosong. Ketika pembelajaran mencapai jiwa, ia bagaikan suatu bentuk tak bernyawa yg muncul pada kehidupan. Seluruh pengetahuan ininberasal dari dunia “tanpa bunyi, tanpa suara” dan diterjemahkan ke dalam dunia bunyi dan suata disini…. ….
  12. Orang membutuhkan kerongkongan dan bibir untuk menghasilkan kata-kata, tetapi Tuhan berbicara melampaui hal-hal seperti bibir, mulut, dan kerongkongan. Maka Nabi Muhammad berbincang dengan Tuhan di dalam dunia tanpa bunyi, tanpa suara dengan cara yg tdk dapat dipahami oleh khayalan intelek-intelek fana semacam itu…. ….
  13. sebagaimana Nabi Muhammad bersabda, “Aku diutus untuk menyeru.” ~Hal.232 (Bab 42: Pengetahuan Berasal dari Dunia tanpa Bunyi, tanpa Suara, tanpa kata-kata) 09/08/2016 00:03 

Kutipan Favorit: Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya dari Karya Jalaluddin Rumi – Part 1

Di bulan ini saya sudah membaca 200 hlm pertama buku terjemahan Malaysia yg aslinya ditulis dalam Bahasa Inggris, namun sebenarnya penyusun buku tersebut mengumpulkan banyak manuskrip dan jurnal kuno dari karya Jalaluddin Rumi, jadi isi keseluruhan karya adalah tulisan asli seorang Rumi. Beliau adalah sufi yang lahir di Afganistan, namun lebih sering tinggal di Byzantium dimana dulu adalah daerah eropa. Beliau sering ditemui oleh banyak sahabat dan juga keluarga raja untuk dimintai nasehat juga cerita – cerita timur tengah. Beliau mencintai dunia puisi dan seringkali karyanya ditemui dalam bentuk puisi, namun konon dalam berdakwah atau bercerita, beliau tidak pernah menuliskan kata – katanya di buku, oleh karena itu banyak jurnal tentang ilmu pengetahuan dari Rumi di tulis oleh pengikut – pengikutnya.

Buku yg saya baca berbentuk Hardcover dengan total 355 hlm, berjudul; “Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya” karya Jalaluddin Rumi.

Setiap kali membaca buku nonfiksi, saya suka sekali memberi highlight kuning sebagai kutipan – kutipan favorit. Berikut sepuluh kutipan pertama yg saya sukai dari buku tersebut:

  1. Karena pencerapan mistik itu melampaui nalar, mereka rdk mampu menceritakan pengalaman itu ke dlm gaya rasional terstruktur danesti terpaksa menggunakan medium perlambangan (simbolik). ~ Hal.18
  2. Sufisme tdk berhubungan dgn perwujudan dunia dan keadaan luar, melainkan msk ke dlm diri atau membatinkan diri sendiri utk mencapai kesadaran spiritual suatu ajaran. ~ Hal.19
  3. Tuhan bersabda dlm sebuah hadis Qudsi yg kerap dikutip para sufi, “Aku adl harta karun terpendam dan ingin dikenali, maka Aku ciptakan makhluk agar Aku dpt dikenali.” ~ Hal.20
  4. Apabila engkau ingin ‘mengetahui’ seseorang, buatlah dia berbicara. Kemidian engkau mampu ‘mengetahui’ dia yg sebenarnya dari ucapannya…. ….
  5. Sekarang, jika ada orang yg sengaja tdk ingin diketahui dan berdiam diri, bagaimana aku tau dia yg sebenarnya? Jawabannya adl, berdiam diri terhadap kehadirannya. Berikan dirimu dan bersabar! Barangkali sebuah kata akan terluncur dari bibirnya. Jika tdk, sebuah kata barangkali scr tdk hati-hati akan meluncur dari bibirmu, atau pikiran atau gagasan bisa jadi muncul pada dirimu. Dari pikiran atau gagasan itu barangkali engkau ‘mengetahui’ dia, karena saat itu engkau telah ‘terpengaruh’ olehnya. Itu adl ‘pantulan’ dan ‘pernyataan’ dirinya yg tercermin ke dalam dirimu. ~Hal.83 – 84 (Bab.10: Aku Sanggup Mengabulkan Permintaanmu, Tapi Ratapan Kesedihanmu Lebih Aku Sukai)
  6. Kita sesungguhnya selalu berkomunikasi dgn orang yg menyatu dgn diri kita–di dalam kesunyian, kehadiran, dan ketiadaanya. Bahkan di dalam perang kita bersatu, bergaul bersama. ~Hal.95 (Bab.11: Komunikasi dlm Cinta: Komunikasi Paling Rahasia) 08/29/2016 16:03
  7. Ketika engkau telah melihat darwisyy, berarti engkau telah melihat seluruh dunia. Siapa pun yg mencarinya pasti mendapatkan sesuatu yg berlebih…. …
  8. Carilah dalam dirimu apa pun yg engkau inginkan, itulah engkau! (Kutipan sajak karya Najmuddin Razi, Manarat as-sa’irin, catatan di Teheran, Perpustakaan Malek) ~Hal.127 (Bab.16: Isi Cangkir Lebih Utama dibanding Bentuknya) 09/01/2016 22:32 
  9. Malaikat bebas karena pengetahuannya, Binatang bebas karena kebodohannya, Di antara keduanya manusia yg tetap berjuang. (Kitab Rumi). ~Hal.129 (Bab.17: Manusia, antara Nasut dan Lahut) 09/02/2016 19:44
  10. Ketika engkau menyerap bentuk keindahan yg muncul lebih dahulu, dan semakin lama engkau berdiam dengannya, engkau menjadi semakin kecewa. Apakah arti dari bentuk Alquran dibandingkan dengan hakikatnya? Tengoklah ke dalan diri manusia untuk melihat apakah bentuk dan hakikatnya. Apabila hakikat dari bentuk manusia telah hilang, dia tidak akan dibiarkan tinggal di rumah walaupun sesaat. ~Hal.136 (Bab.18: Banyak Pembaca Alquran, Namun Dikutuk Alquran)