Book Study: The Divine Message of The DNA by Kazuo Murakami, Ph.D.

3352015.jpg

Judul lengkap buku terjemahan Bahasa Indonesia ini adalah The Divine Message of The DNA: Tuhan Dalam Gen, ditulis oleh seorang professor yang pernah memenangkan Max Planck Research Award (1990) dan Japan Academy Prize (1996), beliau bernama Kazuo Murakami, Ph.D. yaitu seorang ahli genetika terkemuka di dunia. Menurut cerita bab pendahuluan di buku ini, Dalai Lama juga sangat menyukai pemaparan yang diberikan Kazuo Murakami, Ph.D. tentang Genetika Tuhan.

Saya tidak memberi highlight kuning apapun saat membaca buku ini, karena alasan melihat buku ini hanya 199 halaman, mungkin akan menjadi light reading karena cukup tipis. Tapi ada beberapa kutipan yang saya sukai, saya cukup menyesal karena tidak menandainya, hehehehehe… makanya harus membuka lembarannya lagi untuk mencari kutipan tersebut sembari menulis blog ini.

Lucunya, saya membaca buku ini saat bersamaan menonton acara TV Series Netflix berjudul Altered Carbon, yah.. ternyata mengandung kesamaan topik tentang ilmu genetika. Di antara dua media ini saya menemukan kesamaan adanya ilmu cloning (atau duplikasi tubuh fisik dengan cara mengambil sampel DNA subjek yang dituju) pada manusia.

Artinya topik ini patut untuk dipelajari, terutama bagi orang awam seperti saya hehe. Namun begitu, buku tentang genetika ini tidak akan membahas secara jauh dari sisi sains, justru buku ini menjabarkan hubungan erat antara sains dan spiritualitas. Para pembaca akan menemukan sisi filosofis dari tulisan beliau tentang makna dibalik “Genetika Tuhan” dalam diri manusia, atau istilah populer di barat adalah God’s Divine Particle.

Nah, jadi apa sih yang dimaksud dengan Genetika Tuhan? Continue reading “Book Study: The Divine Message of The DNA by Kazuo Murakami, Ph.D.”

Advertisements

Study & Quotes Collection: “The Wisdom of the Knowing Ones” by Manly P. Hall

The Wisdom of the Knowing Ones by Manly P. Hall

Note: The book that I’ve read was published in 2000 by Philosophical Research Society, Inc. The book itself registered as the version of 2010 edition, written by Manly P. Hall.
QUOTES:
• The word “Gnostic” derived from the Greek “Gnosis” usually translated as “knowledge” and its antonym, “agnostic” means a non-knower, the one who denies all knowledge of ultimate realities, while a Gnostic is one who professes knowledge of such things. ~Chapter Introduction, The knowers and Their Knowledge, Pg.8
• The British scholar E.R Dodds has suggested as long as forty years ago that the writings of Gnostic derived from mystical experience. ~Chapter Introduction, Pg.9
• Orthodox Christians are agreed that we live in a fallen world which we shall leave behind at our death. ~Chapter Introduction, Concerning the Cosmos, Pg.11
• To properly appreciate the Gnostic view of Deity, one must remember that the Gnostic originated within the Semitic Monotheistic religious matrix…
… the greatest of all questions the Gnostic asked was this: Is this flawed creator truly the ultimate, true and good God? Or might he be a lesser deity, a sort of large, but nor very wise angel, who has become either ignorant of a greater power beyond himself or is an imposter, impersonating the universal God?
The Gnostic answered these questions by saying that this creator is obviously not the ultimate, the God, but rather a demiurges (craftsman), an intermediate secondary deity. ~Chapter Introduction, Concerning the Cosmos, Pg.12
• Within the humor dwells a “divine spark”, a spirit that is older than the created world and all in it. Much of the time we are ignorant of the divine spark resident within us. ~Chapter Introduction, The Humans Predicament, Pg. 13
• The great Messengers of the Light come to stimulate this potential and they do so not by their death but by their lives. The ministry of these Messengers is twofold: first, they bring us teachings which lead our minds and heart to Gnosis: and, second, they confer liberating mysteries, which with their mystic grace bring the fullness of liberating Gnosis which is thus sealed in our spirits forever. ~Chapter Introduction, Pg. 16
[Note: Chapter Introduction was written by Stephen A. Haeller.]
• Spirit which is the common substance of universals, likewise exists according to states…
Energy, or force as it was known in old times, is likewise as extension of spirit, but this extension is subject to greater limitations than intellect because it is definable. ~Chapter 1. Gnosticism, the Key to Esoteric Christianity, Pg.21
• He (Plato) used the analogy of light and darkness; Light is principle, darkness is not a principle—it is merely the absence of light. ~Chapter 1, Pg.22-23
• Did light precede darkness or did darkness precede light? … … Most systems inter that darkness preceded light and is therefore more ancient, more universal, and more real… …
Is absence then greater than presence? Presence always exists in a field consisting of the absence of itself. One condition is not definable without the other. They are “co-eternal” and “co-dependent”, with absence always in excess of presence…
It is like the problem of food and appetite. Hunger is the absence of food. Food is the solution of hunger. Food is real and definable. Hunger has no dimension or appearance. Which then, is the reality? … …
If light is food and darkness is hunger, which is the more real? Food is a temporary solution to an eternal problem. All this is very confusing. ~Chapter 1, Pg.23

Continue reading “Study & Quotes Collection: “The Wisdom of the Knowing Ones” by Manly P. Hall”

Study & Quotes Collection: “Book of Enoch” translated by R.H Charles

rl-720x340

QUOTES:

  • We study the Apocalypses to learn how our spiritual ancestors hoped against hope that God would make all right in the end; and that we, their children, are here today studying them is an indication that their hope was not wholly unfounded. ~Introduction, Vii
  • Now, since, as we have seen, the Apocalyptic despair of any bettering of the present world, and therefore contemplate its destruction as the preliminary of the new order things, they look away from this world in their visions of the future; they conceive of other-worldly forces coming into play in the reconstitution of things, and of society generally; and since these are other-worldly forces the supernatural plays a great part in the Apocalyptic Literature. This supernatural coloring will often strike the reader of this literature as fantastic, and at times bizarre; but this should not be permitted to obscure the reality which often lies behind these weird shadows. ~ Introduction, ix
  • Mental visions are not always easily expressed in words. ~ Introduction, ix

 

[Study] History about Book of Enoch;

Book of Enoch came into existence about the period 200 – 150 B.C, and continued to be written for three centuries – the second (fourth) Book of Edras, which belongs to the end of the first Christian century. These books believe to be written in Palestine, in Jewish history of the Maccabean Era. The translator, R.H Charles believes that the book was originally written either in Hebrew or Aramaic language, and the book was believed to be written by many authors. And it is believed that Book of Enoch is only a few portions of chapters that are separated from Book of Noah.

It was being said in the story, there were about two hundred of angels descended on the summit of Mount Hermon, with the purpose to marry the daughters of men after they saw and lusted after them. Not only that they taught and showed the women with the heavenly secrets, but the women also got pregnant, and bare great giants, whose height was three thousand ells, but as they grew up, these children of human-angel became evil to mankind.

The eternal secrets that human were not supposed to know, which taught and showed by the angels were; the knowledge of creating metals and stones, astrology, constellations, the knowledge of clouds, the signs of the earth, the sun, and the moon.

Continue reading “Study & Quotes Collection: “Book of Enoch” translated by R.H Charles”

Book Study: Tragedi Setan: Iblis dalam Psikologi Sufi oleh Peter J.Awn

Book Study:

Tragedi Setan: Iblis dalam Psikologi Sufi oleh Peter J.Awn (Buku Terjemahan)

tragedi2bsetan2biblis2bdalam2bpsikologi2bsufi

BOOK REVIEW:

Enam hari saya selesai membaca buku ini, dua minggu sebelumnya saya selalu mempertanyakan konsep spiritual tentang takdir dan pilihan manusia, apakah Allah SWT memberikan manusia kebabasan pilihan, ataukah apapun pilihan yang kita tempuh akan berakhir sesuai yang dikehandaki-Nya? Saya tidak menyangka buku yang lagi-lagi saya pilih ‘secara acak’ dari lemari buku akhirnya menjawab rasa penasaran saya! Nah, saatnya untuk review:

Topik penelitian tentang Tragedi Iblis ini awalnya dipresentasikan untuk Tesis doktoral di Universitas Harvard pada musim semi tahun 1978. Buku yang akhirnya diterbitkan tahun 1983 ini menjabarkan definisi-definisi tentang Iblis dalam pandangan yang penuh dengan kontradiksi. Entahlah apakah Peter J.Awn sendiri bingung dengan apa yang ditulisnya, pemahaman dari pandangan A bisa berlari ke B, lalu si penulis menyalahkan pandangan A dan beralih membenarkan pandangan B, lalu menemukan pandangan C, dan hal yang sama berulang, sampai akhirnya kembali mendukung pemahaman A. Tulisan dalam buku ini tidak konsisten dalam menuliskan pandangan tentang seluk-beluk dunia Iblis dan sejarahnya. Pada akhir ringkasan, Peter J.Awn mengakui bahwa kutipan-kutipan buku yang ia gunakan untuk bukunya memang didasarkan dari masing-masing tulisan para penulis buku yang hanya berpatokan pada ‘asumsi belaka’ karena sesungguhnya tidak ada yang benar-benar mengetahui sejarah kehidupan Iblis, namun semua tahu apa yang menjadi misi abadi sang Iblis, dan semua agama memiliki doktrin yang sama tentang hal itu, yakni mengoda manusia menuju jalan kegelapan.

Buku ini juga menjabarkan pemahaman yang agak ‘twisted’ dan ‘conflicted’ dengan kepercayaan religi yang sudah ada di masyarakat, yaitu saat penulis mendukung pemahaman bahwa Iblis sosok yang patut dikasihani karena terperangkap dalam kutukan abadi dari Tuhan setelah mengalami tragedi pengusiran dari surga karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Nabi Adam. Iblis diasumsikan memiliki mata satu, ini sebagai metafor bahwa Iblis hanya dapat melihat dan memaknai jalan kegelapan dan menghiraukan jalan cahaya.

Si penulis menjabarkan dari sisi pandangan psikologi sufi, dimana benih-benih ajaran Iblis melekat pada sufi, namun sufi memandangnya sebagai kecintaan dan kasih sayang karena memilih untuk berpandangan positif, dan merubah pola berpikir bahwa segala hal terjadi bahkan tragedi dapat terjadi karena kehendak tuhan.

Continue reading “Book Study: Tragedi Setan: Iblis dalam Psikologi Sufi oleh Peter J.Awn”

Book Quotes – Reincarnation: The Cycle of Necessity by Manly P. Hall

Greetings!

I’ve just finished reading another great book last week by Manly P. Hall, he was a professor/philosopher in the field of spiritual world. I thought I’d be happy to share on this blog the quotes that I’ve highlighted in purpose for spiritual learning about reincarnation and karma. Anyway, his books are not pretty easy to find around the internet, it took me a long time to find some of his books through link by link on Google, I was actually more like stuck and lost, and surprisingly in the end, I could find his book about reincarnation.

Quotes from book “Reincarnation: The Cycle of Necessity” by Manly P. Hall

  • It is obvious that no one can be compelled to accept a belief because that belief is enlightened. ~By Way of Introduction, Pg.12
  • Literally the word reincarnation means to incarnate again, to be re-embodied, or more accurately, to be re-enflashed; to return after death to the physical of terms. ~Pg.15
  • “Immortality” simply means the deathlessness of the spirit. Immortality is agreed upon by the greater part of the human race, but as the term does not imply any necessity for physical rebirth the belief in immortality is not synonymous with the belief in reincarnation. ~Pg.17
  • “Personality” is the term applied to the complex of mind, emotion, sense, and form. Personalities are those objective parts of man’s composite nature which are discernible or uninformed. To most people reincarnation signifies the re-embodiment of their personalities. This is the key to the confusion in Isis Unveiled wherein Mme. Blavatsky insists that personalities are not reborn except under unusual conditions. ~Pg.18
  • “Memory of Past Lives” : in both the Eastern and Western schools the memory of past lives is awakened only after initiation into the Mysteries. This memory is preserved in the permanent self and may be contacted when the lower personality is lifted up by discipline into communion or participation with the self. For the uninitiated there is no advantage in remembering past personalities. ~Pg.19-20
  • There was no escape from the laws of life and death except the ultimate Nirvana. ~Previous Life of Buddha, Pg.35
  • Wisdom does not bestow immortality upon the body rather it elevates the consciousness, giving patience, and understanding. ~Previous Life of Buddha, Pg.35
  • We all believe what we desire to believe, and those who desire to be immortal attempt to believe immortality into a fact. ~Pg.40
  • To one who has lived long, long life means little; to a world that has experienced much, suffered much, mellowed with ages of existence. ~Pg.40
  • The Koran (Al-Quran) is the final authority of Islam. The enthusiastic moslem declares that not one line, not one character; not even a single punctuation mark of the Koran has ever been changed. They advance this book as the only scriptural writing in the world that has not suffered the corruption of revision or translation. ~Reincarnation in Islam, Pg.61
  • The Koran contains one Sura that is interpreted by numerous modern moslem as authority for the belief in metempsychosis, “God generates beings, and here they return to him.” This statement appears to be specific and incapable of other interpretation, but it is only fair to say that reincarnation is a disputed point in Islamic orthodoxy. ~Pg.62

Continue reading “Book Quotes – Reincarnation: The Cycle of Necessity by Manly P. Hall”

Book Study: The Garden of Truth by Seyyed Hossein Nasr

Berikut flashback cerita, sebelum saya mempelajari buku The Garden of Truth;

Beberapa hari yang lalu, saya memilih film The Matrix (Keanu Reeves) seri pertama karena sebenarnya sedari kecil hanya menonton sekilas-sekilas, dan juga sering melihat random fans page di facebook mengunggah post tentang kutipan-kutipan film tersebut. Alhasil, saya penasaran untuk menonton film nya dari awal sampai habis.

Beberapa hari kemudian, saya ingin membaca buku berjudul The Garden of Truth karya Seyyed Hossein Nasr, buku tersebut diterjemahkan ke Indonesia dari penerbit Mizan. Saya membutuhkan 9 hari untuk menyelesaikan buku tersebut. Ternyata pengarang buku tersebut adalah seorang professor, dan bahasa-nya agak sulit untuk dipahami, saya membaca berjalan berlahan seperti kura-kura agar dapat memahami maksud dan isi dari buku tersebut.

Sebenarnya, saya merasa seperti mengalami sinkronisasi yang menakjubkan saat di tengah-tengah membaca buku tersebut, karena tidak menyangka, seakan-akan buku dan film yang saya tonton dalam kurun waktu yang berdekatan memiliki persamaan makna walaupun berbeda jubah. Keduanya sama-sama memiliki pesan moral bahwa kita ini sedang tertidur di alam kehidupan sehari-hari, dan akan terbangun saat kita tersadar, dan juga tentang pencarian jati diri kita yang sebenarnya, serta tentang kebenaran. Continue reading “Book Study: The Garden of Truth by Seyyed Hossein Nasr”

Kutipan Favorit: Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya dari Karya Jalaluddin Rumi – Part 3

Lanjutan kutipan-kutipan favorit oleh Jalaluddin Rumi:

09/11/2016 21:07

Nabi Muhammad bersabda, “Aku adalah pembunuh yang tertawa” yakni ketika aku tertawa di hadapan manusia kasar, aku membunuhnya. Apa yg Nabi maksudkan dengab tertawa adalah berterima kasih, dan tidak mengeluh. ~Hal.263 (Bab 48: Rasa Syukur adalah Pintu Menuju kebaikan

Orang yg menolak memberikan rasa terima kasih dikuasai oleh “kerakusan besar” hingga tdk peduli betapapun banyaknya dia memperoleh, dia merasa rakus lebih banyak lagi. ~Hal.264

Perbedaan antara pujian dan rasa syukur adalah: rasa syukur diungkapkan utk hal-hal baik yg diterimanya. Seseorang tdk dpt berterima kasih utk kecantikan atau keberanian. Pujian merupakan istilah yg lebih umum. ~Hal.265

“Memotong sambungan lebih mudah daripada memotong hubungan.” (Hubungan disini yakni demikian sukar utk memecahkan bisa jadi hubungan pada dunia, yang ke sanalah orang diturunkan dan bagian darinya orang menjadi. ~Hal.266 (Bab 49: Memimpika Air Tidak Meghilangkan Rasa Haus)

09/12/2016 19:26 

Semoga ingatan yg baik dari setiap orang yg berbicara baik tentang kita bertahan lama di dunia. Apabila berbicara baik kepada yg lain, kebaikan akan kembali kepadamu. Kebaikan dan pujian dari yg lain yg engkau katakan, pada hakikatnya adl utk dirimu sendiri. ~Hal.291 (Bab 55: Cintailah Setiap Orang dan Hiduplah di Taman Penuh Kedamaian)

Setiap malaikat memiliki lembaran di dalam dirinya, dari sana sesuai dgn proporsi jajarannya, mampu membaca keadaan dunia dan apa yg akan terjadi. ~Hal.293

Ketika telinga mendengar sesuatu terus-menerus, ia akan menyerap pengalaman sebagaimana dia melihat suatu kenyataan. ~Hal.313 (Bab 61: Antara Ainuddin dan Mu’inuddin)

Segala sesuatu yang “melihat” adalah pengetahuan relijius, segala sesuatu yang “mengetahui” adalah pengetahuan tubuh. ~Hal.328 (Bab 64: Antara Pengetahuan Inderawi da pengetahuan Relijius)

Musuhmu bukanlah daging dan tulangnya, melainkan pikiran jahatnya. ~Hal.336-337 (Bab 68: Musuhmu Bukan Daging dan Tulangnya, tapi Pikiran Jahatnya)

Kutipan Favorit: Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya dari Karya Jalaluddin Rumi – Part 2

Lanjutan kutipan – kutipan favorit dari karya Jalaluddin Rumi “Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya” berikut: 

  1. Terdapat dunia tubuh, imajinasi lain, fantasi lain, dan anggapan lain, tetapi Tuhan melampai segala dunia, tidal di dalam atau tanpanya. Sekarang, pertimbangkan betapa Tuhan mengendalikan imajinasi itu dengan memberi mereka bentuk tanpa sifat, tanpa pena, tanpa alat. Apabila kalian membelah dada dan memisahkannya, lalu mencari pikiran atau gagasan dgn cara mengambilnya bagian demi bagian, kalian tdk akan menemukan pikiran apapun disana. Kalian tdk akan menemukan itu di atas atau di bawah. Kalian tdk akan menemukan anghita badan atau organ, karena mereka tanpa sifat dan tanpa ruang. ~Hal.156 (Bab.23: Gagasan adl Daun Warna-Warni dari Satu Akar Pohon yg Sama)
  2. Kata-kata ini sama halnya dgn Syriac, bagi kalian yg dpt memahami mereka. Berhati-hatilah kalau-kalau kalian berkata paham! Semakon engkau berpikir bahwa dirimu mengerti, semakin jauh engkau dari pemahaman. Memahami berarti tidak paham. Seluruh kesulitan dan masalahmu muncul dari pemahaman itu. Pemahaman itu belenggu, engkau mesti melarikan diri dari itu untuk jadi sesuatu. ~Hal.172 (Bab.26: Kata-Kata Bagaikan Pengantin Perempuan, Pahamilah dengan Cinta)
  3. Hikmah tidak muncul dari dirinya sendiri apabila orang tidak menariknya keluar. Hikmah muncul pada suatu bagian sesuai dengan kekuatan yg menarik hikmah itu keluar dan memberinya makanan…. … …
  4. Orang selalu mencintai yg tdk pernah mereka lihat atau dengar atau pahami. Siang dan malam dia mencarinya. Aku menyerahkan diri kpd yg tdk dpt aku lihat. Orang jd bosan dan membuang yg telah dilihat dan dipahami. Utk alasan inilah filosof menolak gagasan pandangan. Mereka berkata ketika melihat, sangat mungkin bagimu jadi bosan. Tetapi yg ini tdk demikian. Kaum Sunni mengatakan pandangan adl waktu Dia muncul pd satu cara, tetapi Dia hadir pd ribuan cara berbeda setiap saat: setiap hari Dia menciptakan sejumlah ciptaan baru. [QS: 56:29] ~Hal.174 (Bab.26: Kata-Kata Bagaikan Pengantin Perempuan, Pahamilah dengan Cinta) 09/03/2016 17:46 
  5. Imajinasi dan pekerjaan batin manusia seperti jalan masuk tempat seseorang datang pertama kali sebelum memasuki rumah. Seluruh dunia ini seperti rumah, dan segala yg datang ke dalamnya niscaya akan nampak di dalam rumah itu. Ambillah contoh rumah yg kita tempati. Bentuk pertamanya muncul di dalam pikiran arsitek, lalu jadilah rumah…. ….
  6. Apapun yg kau lihat di dunia ini ada di dunia lainnya. ~Hal.212 (Bab 37: Imajinasi adalah Kalan Masuk Menuju yang Nyata)
  7. Nabi bersabda, “Engkau semua menyepakati bahwa di dunia ada seseorang yg menerima wahyu dan tdk semua orang dapat menerima wahyu. Orang yg menerima wahyu memiliki tanda-tanda tertentu pada perilaku, kata-kata, dan wajahnya. Tentu, pada setiap bagiannya terdapat tanda pewahyuan itu. Ketika engkau melihat tanda itu pada diri seseorang, berpalinglah padanya dan ketahuilah bahwa dia cukup berkuasa untuk menjadi pelindungmu.” ~Hal.215 (Bab 38: Perhatian adalah Inti dari Cinta)
  8. “Cinta hanya bisa terlepas oleh cinta lain.”
  9. “Siapa pun yg berharap duduk dengan Tuhan yang Maha Kuasa, biarkan dia duduk dengan para sufi.” ~Hal.218 (Bab 39: Cinta Hanya Bisa Terlepas oleh Cinta Lain)
  10. Aku mengatakan bahwa ketika seorang manusia melupakan apa-apa yg pernah dipelajarinya, dia akan menjadi, sebagaimana awalnya manusia, bersih tanpa kesalahan, sesuai dengan pertanyaan yang belum dipelajari sebelumnya. ~Hal.224 (Bab 40: Ketika Datang di Gunung, Buatlah Suara Indah)
  11. Pembelajaran itu bagaikan ringkasan yg kosong. Ketika pembelajaran mencapai jiwa, ia bagaikan suatu bentuk tak bernyawa yg muncul pada kehidupan. Seluruh pengetahuan ininberasal dari dunia “tanpa bunyi, tanpa suara” dan diterjemahkan ke dalam dunia bunyi dan suata disini…. ….
  12. Orang membutuhkan kerongkongan dan bibir untuk menghasilkan kata-kata, tetapi Tuhan berbicara melampaui hal-hal seperti bibir, mulut, dan kerongkongan. Maka Nabi Muhammad berbincang dengan Tuhan di dalam dunia tanpa bunyi, tanpa suara dengan cara yg tdk dapat dipahami oleh khayalan intelek-intelek fana semacam itu…. ….
  13. sebagaimana Nabi Muhammad bersabda, “Aku diutus untuk menyeru.” ~Hal.232 (Bab 42: Pengetahuan Berasal dari Dunia tanpa Bunyi, tanpa Suara, tanpa kata-kata) 09/08/2016 00:03 

Kutipan Favorit: Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya dari Karya Jalaluddin Rumi – Part 1

Di bulan ini saya sudah membaca 200 hlm pertama buku terjemahan Malaysia yg aslinya ditulis dalam Bahasa Inggris, namun sebenarnya penyusun buku tersebut mengumpulkan banyak manuskrip dan jurnal kuno dari karya Jalaluddin Rumi, jadi isi keseluruhan karya adalah tulisan asli seorang Rumi. Beliau adalah sufi yang lahir di Afganistan, namun lebih sering tinggal di Byzantium dimana dulu adalah daerah eropa. Beliau sering ditemui oleh banyak sahabat dan juga keluarga raja untuk dimintai nasehat juga cerita – cerita timur tengah. Beliau mencintai dunia puisi dan seringkali karyanya ditemui dalam bentuk puisi, namun konon dalam berdakwah atau bercerita, beliau tidak pernah menuliskan kata – katanya di buku, oleh karena itu banyak jurnal tentang ilmu pengetahuan dari Rumi di tulis oleh pengikut – pengikutnya.

Buku yg saya baca berbentuk Hardcover dengan total 355 hlm, berjudul; “Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya” karya Jalaluddin Rumi.

Setiap kali membaca buku nonfiksi, saya suka sekali memberi highlight kuning sebagai kutipan – kutipan favorit. Berikut sepuluh kutipan pertama yg saya sukai dari buku tersebut:

  1. Karena pencerapan mistik itu melampaui nalar, mereka rdk mampu menceritakan pengalaman itu ke dlm gaya rasional terstruktur danesti terpaksa menggunakan medium perlambangan (simbolik). ~ Hal.18
  2. Sufisme tdk berhubungan dgn perwujudan dunia dan keadaan luar, melainkan msk ke dlm diri atau membatinkan diri sendiri utk mencapai kesadaran spiritual suatu ajaran. ~ Hal.19
  3. Tuhan bersabda dlm sebuah hadis Qudsi yg kerap dikutip para sufi, “Aku adl harta karun terpendam dan ingin dikenali, maka Aku ciptakan makhluk agar Aku dpt dikenali.” ~ Hal.20
  4. Apabila engkau ingin ‘mengetahui’ seseorang, buatlah dia berbicara. Kemidian engkau mampu ‘mengetahui’ dia yg sebenarnya dari ucapannya…. ….
  5. Sekarang, jika ada orang yg sengaja tdk ingin diketahui dan berdiam diri, bagaimana aku tau dia yg sebenarnya? Jawabannya adl, berdiam diri terhadap kehadirannya. Berikan dirimu dan bersabar! Barangkali sebuah kata akan terluncur dari bibirnya. Jika tdk, sebuah kata barangkali scr tdk hati-hati akan meluncur dari bibirmu, atau pikiran atau gagasan bisa jadi muncul pada dirimu. Dari pikiran atau gagasan itu barangkali engkau ‘mengetahui’ dia, karena saat itu engkau telah ‘terpengaruh’ olehnya. Itu adl ‘pantulan’ dan ‘pernyataan’ dirinya yg tercermin ke dalam dirimu. ~Hal.83 – 84 (Bab.10: Aku Sanggup Mengabulkan Permintaanmu, Tapi Ratapan Kesedihanmu Lebih Aku Sukai)
  6. Kita sesungguhnya selalu berkomunikasi dgn orang yg menyatu dgn diri kita–di dalam kesunyian, kehadiran, dan ketiadaanya. Bahkan di dalam perang kita bersatu, bergaul bersama. ~Hal.95 (Bab.11: Komunikasi dlm Cinta: Komunikasi Paling Rahasia) 08/29/2016 16:03
  7. Ketika engkau telah melihat darwisyy, berarti engkau telah melihat seluruh dunia. Siapa pun yg mencarinya pasti mendapatkan sesuatu yg berlebih…. …
  8. Carilah dalam dirimu apa pun yg engkau inginkan, itulah engkau! (Kutipan sajak karya Najmuddin Razi, Manarat as-sa’irin, catatan di Teheran, Perpustakaan Malek) ~Hal.127 (Bab.16: Isi Cangkir Lebih Utama dibanding Bentuknya) 09/01/2016 22:32 
  9. Malaikat bebas karena pengetahuannya, Binatang bebas karena kebodohannya, Di antara keduanya manusia yg tetap berjuang. (Kitab Rumi). ~Hal.129 (Bab.17: Manusia, antara Nasut dan Lahut) 09/02/2016 19:44
  10. Ketika engkau menyerap bentuk keindahan yg muncul lebih dahulu, dan semakin lama engkau berdiam dengannya, engkau menjadi semakin kecewa. Apakah arti dari bentuk Alquran dibandingkan dengan hakikatnya? Tengoklah ke dalan diri manusia untuk melihat apakah bentuk dan hakikatnya. Apabila hakikat dari bentuk manusia telah hilang, dia tidak akan dibiarkan tinggal di rumah walaupun sesaat. ~Hal.136 (Bab.18: Banyak Pembaca Alquran, Namun Dikutuk Alquran)

    [Book Review] The Hush Hush Saga

    This is my first book review on WordPress, actually I’m about to review four books at once. Hush Hush, Crescendo, Silence, and Finale, all by Becca Fitzpatrick. I am going to review about what I like and I don’t.

    Yeay, I finished this series in about two months, I guess? (Sept – Oct)

    Back in 2009, the first impression I used to have toward Hush Hush was I thought it tried to doppelganger The Twilight Saga by Stephanie Meyer, that made me hated it, more like I resented it. But guess what, I was wrong all along in a fact beyond what I never know behind the publishing industry since there were so many similarity in both worlds of those books.

    Continue reading “[Book Review] The Hush Hush Saga”