Book Study: Tragedi Setan: Iblis dalam Psikologi Sufi oleh Peter J.Awn

Book Study:

Tragedi Setan: Iblis dalam Psikologi Sufi oleh Peter J.Awn (Buku Terjemahan)

tragedi2bsetan2biblis2bdalam2bpsikologi2bsufi

BOOK REVIEW:

Enam hari saya selesai membaca buku ini, dua minggu sebelumnya saya selalu mempertanyakan konsep spiritual tentang takdir dan pilihan manusia, apakah Allah SWT memberikan manusia kebabasan pilihan, ataukah apapun pilihan yang kita tempuh akan berakhir sesuai yang dikehandaki-Nya? Saya tidak menyangka buku yang lagi-lagi saya pilih ‘secara acak’ dari lemari buku akhirnya menjawab rasa penasaran saya! Nah, saatnya untuk review:

Topik penelitian tentang Tragedi Iblis ini awalnya dipresentasikan untuk Tesis doktoral di Universitas Harvard pada musim semi tahun 1978. Buku yang akhirnya diterbitkan tahun 1983 ini menjabarkan definisi-definisi tentang Iblis dalam pandangan yang penuh dengan kontradiksi. Entahlah apakah Peter J.Awn sendiri bingung dengan apa yang ditulisnya, pemahaman dari pandangan A bisa berlari ke B, lalu si penulis menyalahkan pandangan A dan beralih membenarkan pandangan B, lalu menemukan pandangan C, dan hal yang sama berulang, sampai akhirnya kembali mendukung pemahaman A. Tulisan dalam buku ini tidak konsisten dalam menuliskan pandangan tentang seluk-beluk dunia Iblis dan sejarahnya. Pada akhir ringkasan, Peter J.Awn mengakui bahwa kutipan-kutipan buku yang ia gunakan untuk bukunya memang didasarkan dari masing-masing tulisan para penulis buku yang hanya berpatokan pada ‘asumsi belaka’ karena sesungguhnya tidak ada yang benar-benar mengetahui sejarah kehidupan Iblis, namun semua tahu apa yang menjadi misi abadi sang Iblis, dan semua agama memiliki doktrin yang sama tentang hal itu, yakni mengoda manusia menuju jalan kegelapan.

Buku ini juga menjabarkan pemahaman yang agak ‘twisted’ dan ‘conflicted’ dengan kepercayaan religi yang sudah ada di masyarakat, yaitu saat penulis mendukung pemahaman bahwa Iblis sosok yang patut dikasihani karena terperangkap dalam kutukan abadi dari Tuhan setelah mengalami tragedi pengusiran dari surga karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Nabi Adam. Iblis diasumsikan memiliki mata satu, ini sebagai metafor bahwa Iblis hanya dapat melihat dan memaknai jalan kegelapan dan menghiraukan jalan cahaya.

Si penulis menjabarkan dari sisi pandangan psikologi sufi, dimana benih-benih ajaran Iblis melekat pada sufi, namun sufi memandangnya sebagai kecintaan dan kasih sayang karena memilih untuk berpandangan positif, dan merubah pola berpikir bahwa segala hal terjadi bahkan tragedi dapat terjadi karena kehendak tuhan.

Disini, Tuhan memiliki sistem tatanan kerja ‘perintah’ dan ‘kehendak’ dimana semua makhluk ciptaan-Nya diberi kebebasan memilih namun dibatasi dengan kehendak takdir. Buku ini memberikan pencerahan bahwa kita sebagai makhluk hidup memiliki pilihan dalam menentukan jalan hidup, mau menjadi baik atau buruk adalah pilihan dalam proses masing-masing makhluk, namun pada akhirnya, Tuhan telah menentukan takdir atas segala sesuatunya. Intinya, apabila sesorang ditakdirkan masuk surga, dia akan masuk surga setalah mati, walaupun dalam proses perjalanan hidupnya ia pernah memilih menjadi orang jahat. Apabila seseorang sudah ditentukan menjadi orang jahat, dia akan mati menjadi orang jahat walaupan dalam proses hidupnya dia pernah memilih menjadi orang baik, dan begitu sebaliknya. Jadi, kita bisa memilih proses apa yang ingin kita lalui, namun tidak untuk hasil akhirnya.

Buku ini memberikan pemahaman dan pencerahan baru tentang dunia Iblis dan jalan kegelapannya. Pelajaran yang berharga untuk kita petik dari cerita tentang sosok misterius bernama Iblis yang awalnya adalah Azazil.

Ringkasan menarik lainnya, dalam buku ini ada kutipan karya Zaehner ‘Our Savage God’ yang mempercayai sisi kekejaman Tuhan dan hubungan-Nya yang dekat dengan penderitaan manusia (lihat Hal. 404 – 406) dimana ia dedikasikan untuk pengikut tradisi Kristen untuk mengetahui sifat ambigius Tuhan yang mereka sembah, walaupun dalam Kristen modern, mereka menolak untuk menerima Tuhan dalam Kitab Perjanjian Lama yang menakutkan. Buku ini mengakui bahwa satu-satunya agama di dunia yang tidak mengajarkan konsep kekerasan dan kekejaman adalah agama Islam, oleh karena itu, para sufi hanya berpedoman pada unsur-unsur yang penuh kasih sayang.

KUTIPAN FAVORIT:

Pemahaman orang-orang Kristen tentang mistik telah dinyatakan dalam bentuk yang ringkas oleh Evelyn Underhill: “Mistisisme, menurut definisi-definisi historis psikologisnya, merupakan intuisi atau pengalamn yang langsung tentang Tuhan.” Gambaran ini tentu saja dapat diterapkan terhadap tradisi-tradisi agama lain dan tidak hanya dalam lingkungan orang Kristen secara khusus. (Hal.2, Pendahuluan)

Akibat yang terjadi akibat dari penolakan setan dan pernyataan dirinya yang mengaku memiliki kesamaan dengan Tuhan adalah sama dalam kedua karya tulis tadi; dia dikutuk oleh Allah dan dikeluarkan dari surga. Segera setelah itu dia menyusun rencana pembalasan dendam terhadap manusia yang menjadi penyebab dari pengutukan terhadap dirinya. (Hal.45, Biografi Mitos)

“Tak ada seorang anak pun yang lahir tanpa setan (Ash-Shaytan) mencocok dirinya. Kemudian anak itu mulai menangis karena rangsangan setan itu—kecuali putera Maryam dan ibunya… (Hal.93, Biografi Mitos)

Hans Wehr mengemukakan, sebagai persamaan, suatu ungkapan bahas Inggris “to become second nature to someone,” ([Setan] menjadi watak kedua bagi seseorang) namun ini tidak mengindahkan kekonkretan bahasa Arab-Setan adalah bagian dari aliran darah manusia (dam). (Hal.93, Biografi Mitos)

Iblis menggambarkan dirinya sendiri sebagai sebuah instrumentum Deo conjunctum, yaitu instrumen Allah yang harus mematuhi tuannya dalam semua hal. Dia mengaku tidak memiliki kekuasaan untuk memilih dengan bebas bagi dirinya untuk terpisah dari Allh; dia tidak dapat melakukan apa-apa, menurut Iblis, selain memberikan suatu ujian bagi manusia, suatu ujian yang diharuskan oleh Allah. Jika manusia jatuh, itu adalah kejatuhannya sendiri, bukan dari Iblis yang terhadapnya manusia secara tak adil telah memperlakukannya sebagai kambing hitam untuk rasa sakit akibat perbuatanya sendiri. (Hal.179 – 180, Iblis si Mata Satu)

Satu-satunya penyebab gnosis adalah karunia dan kemurahan dari kehendak Allah… karena tanpa karunia Allah, akal adalah buta. (Hal.199, Iblis si Mata Satu)

Beberapa orang Dia (Allah) tentukan ke neraka, beberapa yang lainnya masukkan ke surga. Sebenarnya tidak pantas bagi manusia untuk bertanya-tanya bagaimana dan mengapa, agaknya manusia harus percaya pada hubungan cintanya untuk menunjukkan jalan dalam upaya untuk memahami maksud yang ada di luar pemahaman manusia. Walaupun hal ini menentukan penekanan pada instrumentalitas dengan sifat pasif dan kepatuhan yang diakibatkannya, komitmen yang jelas di antara para sufi yang menganut ilmu pertentangan. Kekuasaan Allah mudah menyebar, mereka setuju, namun Allah tidak akan membiarkan manusia terjatuh ke dalam keadaan yang dapat bergerak sendiri semaunya. (Hal.313, Iblis Model Manusia Spiritual)

Kebebasan, oleh karena itu, merupakan kualitas yang membedakan manusia yang membukakan baginya kemungkinan pilihan yang unik. Namun, kebebasan harus berhubungan dengan control Allah yang luas terhadap semua yang terjadi dalam alam semesta. (Hal.314, Iblis Model Manusia Spiritual)

Semua perbuatan manusia sehari-hari dari perhubungan sosial sangat penuh dengan bahaya karena setiap hal yang ikut ambil bagian dalam hal-hal keduniawian akan tercemar oleh sentuhan iblis. Apa yang terlihat indah dan sangat menyenangkan di dalam dunia Iblis, seperti permen cokelat kenari yang lezat yang disiapkan di atas nampan, ketika dimasukkan ke dalam mulut, didapatkan menjadi bersiung-siung bawang putih yang berlapis gula. (Hal.324, Iblis Model Manusia Spiritual)

Iblis bukan berasal dari antara malaikat-malaikat murni di dunia yang terpaksa mematuhi perintah Allah, dan bukan pula dari antara malaikat-malaikat akal di Langat yang menerima kemuliaan Adam, mengakui akalnya dan mematuhi perintah Allah karena ketaatan cinta. Iblis berasal dari Al-Jann, esensi yang berapi, roh hewani dan akibatnya merupakan anggota keluarga roh yang disebut jinn. (Hal.371, Iblis Model Manusia Spiritual)

Iblis diasuh dan didik diantara makhluk-makhluk langit, yang dari mereka dia mendapatkan sebagian ilmu dan kemampuan untuk naik kea lam akal. Tetapi dia menipu dirinya sendiri dengan menyombongkan diri dan menolak untuk tunduk kepada pertimbangan ‘aql. Dia menyatakan dirinya lebih tinggi daripada malaikat-malaikat langit dan bumi, yang karenanya telah melewati batas-batas pengetahuannya. (Hal.371, Iblis Model Manusia Spiritual)

Seorang yang beriman tidak hanya berada dalam takdir dan tidak juga hanya dalam kebebasan manusia yang tak terkendali. Janganlah memilih satu demi satu, seperti yang dilakukan Iblis, tetapi terimalah paradoks bahwa kehendak Allah dan perintah-Nya harus diterima tanpa banyak bertanya, sekalipun semua itu kelihatannya, bagi akal manusia yang terbatas, merupakan sebuah kontradiksi. (Hal.394, Ringkasan dan Kesimpulan)

Jika seseorang telah ditakdirkan oleh Allah dengan keselamatan, maka pilihan bebasnya hanya berputar di antara perbuatan-perbuatan tertentu yang secara positif akan mengarahkan perkembangannya kearah tujuan tersebut. Dan sebaliknyna, orang yang ditakdirkan ke neraka, dengan pilihannya yang bebas, tidak dapat mengubah jalannya dan mencapai surga. (Hal.397, Ringkasan dan Kesimpulan)

Hasil akhir dari eksistensinya akan selalu sama, kembali kepada tauhid yang tidak berbeda. (Hal.399, Ringkasan dan Kesimpulan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s