Book Study: The Garden of Truth by Seyyed Hossein Nasr

Berikut flashback cerita, sebelum saya mempelajari buku The Garden of Truth;

Beberapa hari yang lalu, saya memilih film The Matrix (Keanu Reeves) seri pertama karena sebenarnya sedari kecil hanya menonton sekilas-sekilas, dan juga sering melihat random fans page di facebook mengunggah post tentang kutipan-kutipan film tersebut. Alhasil, saya penasaran untuk menonton film nya dari awal sampai habis.

Beberapa hari kemudian, saya ingin membaca buku berjudul The Garden of Truth karya Seyyed Hossein Nasr, buku tersebut diterjemahkan ke Indonesia dari penerbit Mizan. Saya membutuhkan 9 hari untuk menyelesaikan buku tersebut. Ternyata pengarang buku tersebut adalah seorang professor, dan bahasa-nya agak sulit untuk dipahami, saya membaca berjalan berlahan seperti kura-kura agar dapat memahami maksud dan isi dari buku tersebut.

Sebenarnya, saya merasa seperti mengalami sinkronisasi yang menakjubkan saat di tengah-tengah membaca buku tersebut, karena tidak menyangka, seakan-akan buku dan film yang saya tonton dalam kurun waktu yang berdekatan memiliki persamaan makna walaupun berbeda jubah. Keduanya sama-sama memiliki pesan moral bahwa kita ini sedang tertidur di alam kehidupan sehari-hari, dan akan terbangun saat kita tersadar, dan juga tentang pencarian jati diri kita yang sebenarnya, serta tentang kebenaran.

Hal ini sangat mencengangkan bagi saya, sungguh menakjubkan. Dua hal yang seakan-akan saya pilih dengan acak, ternyata memiliki korelasi/hubungan yang sama. Sumpah, seumur hidup saya tidak mengetahui cerita film The Matrix itu apa, dan baru di awal Januari 2017 ini lah saya memahami nya, dan juga saya sudah lama melihat buku The Garden of Truth terpampang di rak lemari ibu saya, namun baru di bulan ini juga saya membuka lembarannya. Entah kenapa, saat pertama kali melihat buku tersebut, rasanya benar-benar urgent, as if it’s not an option for me, but an obligation to read it. That was a weird feeling.

 

The Book Study: The Garden of Truth by Seyyed Hossein Nasr

8469710-_uy200_

Bab 1. Apa Artinya Menjadi Manusia?

  • Kehidupan Sehari-hari adalah mimpi, kebanyakan orang belum terbangun dari mimpinya,
  • Kita adalah ruh, yang tidak terkotak dalam jenis kelamin sebagai perempuan maupun laki-laki, yakni sebagi Manusia Universal, namun menjadi sesuai dengan pikiran kita masing-masing. Jadi, kau adalah apa yang kau pikirkan.
  • Dalam jalan spiritual, untuk mengetahui maka tidak mengetahui.
  • Kita harus memiliki pikiran bahwa kita tidak memiliki apapun di dunia ini, kita adalah kemiskinan, dan kekayaan hanya milik Allah SWT, dengan pemikiran ini (secara ontologi dan spiritual) maka kita dapat meraih alam kekekalan saat kita meninggalkan “ego” kita.
  • Hal. 36: Makna simbol “Salib” dalam ajaran esoterik Islam tidak menyamakannya dengan kematian kristus, tetapi berhubungan dengan pemahaman sufi tentang makna batin surat Al-Fatihah, menyingkapkan situasi eksistensial ini, yang simbolisme spasialnya adalah salib, yaitu tentang manusia saat berdiri di hadapan Allah SWT.
  • Hal. 38: “Apa yang sebagian besar kita lakukan di dunia ini adalah hidup dalam mimpi yang disebut kehidupan sehari-hari.”
  • Hal. 41: Menjadi seseorang secara spiritual pada akhirnya juga berarti tidak menjadi siapa-siapa.

Bab 2. Kebenaran

  • Jika kita meniadakan/tidak mau menerima/tidak mau mengakui adanya kehadiran unsur “kejahatan”, maka peran Tasawuf (ilmu yang mempelajari mistisisme islam/cara menyucikan diri) akan tidak ada dalam dunia ini, karena Tasawuf hadir sebagai cahaya yang memerangi kegelapan (kejahatan). Antara yang baik dan jahat adalah seimbang. Kita tidak boleh melihat satu unsur saja, namun harus menjadi seimbang.
  • Kebenaran (truth) adalah kepastian, jadi ilmu tentang kebenaran berarti sesuatu yang pasti, sedangkan yang batil berarti tidak pasti dan akan cepat berakhir.

Bab 3. Cinta dan Keindahan.

  • “Orang yang tidak mencintai sesungguhnya tidaklah hidup.”
  • Hal. 97: Apa yang tampak oleh kita sebetulnya muncul dari non-eksistensi yang menampakkan diri sebagai eksistensi. Karena eksistensi itu sendiri memancar dari yang nyata, yang auranya adalah keindahan, yang muncul sebagai kejelekan merupakan akibat tiadanya wujud cahaya, dan bayangan yang berbentuk sebagai akibat jauhnya jarak dari sumber cahaya ini.”

Bab 4. Kebaikan dan Tindakan Manusia.

  • “Tindakan yang berdasarkan kebenaran terutama tindakan seperti berdo’a, bersedekah, berkurban, dan berbicara jujur—membantu pengetahuan tentang kebenaran untuk menjadi teraktualisasi di dalam jiwa.”
  • Hal. 125: “Dunia adalah selubung yang menutupi kebenaran dan mencerai beraikan jiwa kita.”

Bab 5. Bagaimana Kita Meraih Taman Kebenaran.

  • Hal. 147: Bagi para pencari kebenaran, wajib memiliki guru spiritual, baik dari golongan yang nyata maupun gaib (dalam konteks yang baik dan benar untuk mencapai kepada taman kebenaran). ~penjelasan lebih lanjut dapat di baca pada halaman 147.
  • Hal. 162: “Banyak orang yang telah mengalami keadaan spiritual yang sementara, bahkan permanen, dan kemudian berhenti menempuh di jalan itu setelah mendapatkan berbagai kekuatan psikis dan bahkan visi tentang dunia perantara, tetapi gagal untuk mencapai Yang Esa, yang merupakan tujuan dari jalan tersebut.” Jalan yang dimaksudkan disini adalah jalan menuju taman kebenaran.
  • Hal. 164: “Banyak orang yang menampakkan kerendahan hati untuk menyembunyikan keangkuhan ego; ini bukan kerendahan hati, melainkan kemunafikan. Tidak mengakui kebenaran seraya tetap bersikap rendah hati juga merupakan sikap yang menentang akal dan pengetahuan tentang kebenaran.”
  • Jadi, jika kita memiliki kemampuan/bakat, janganlah malu dan malah menyangkalnya dengan alasan takut di bilang sombong, dan sebagainya. Karena saat kita menyangkal, berarti sama dengan menyangkal kebenaran. Karena dalam dunia spiritualitas yang autentik, kebenaran adalah tuntutan tertinggi terhadap diri kita, yaitu sama dengan mengakui pemberian berharga dari Allah SWT, dan serta bersyukur.
  • Hal. 166: Penyatuan diri dengan Tuhan hanya bisa dilakukan saat kita menjadi sadar akan ketiadaan kita dihadapan Allah, menjadi cermin terpoles sempurna yang tidak menunjukkan apa-apa tentang dirinya sendiri kecuali mencerminkan apa yang diletakkan dihadapannya.

Bab 6. Jalan Menuju Pusat

  • Hal. 190: Pengetahuan yang menyelamatkan, adalah ilmu tentang yang Nyata dan sangat penting bagi manusia, sebab pada akhirnya mereka tidak memiliki peluang untuk lari dari kenyataan. Contohnya dalam dunia spiritual adalah ilmu metafisika murni.

 

Kesimpulan:

Semua yang ada di alam semesta ini, termasuk jati diri kita sebagai seorang manusia, semuanya berasal dari Allah, dan akan kembali kepada Allah. Kebenaran yang hakiki hanyalah pengetahuan milik Allah. Seperti wahyu dalam Alquran; kita tidaklah diberikan pengetahuan melainkan sedikit. Kebenaran tentang jati diri kita, mengapa kita diciptakan, untuk apa kita hidup, yang paling mengetahui adalah yang bersangkutan. Tetapi satu hal yang pasti, tentang The Garden of Truth atau taman kebenaran, untuk mencapainya, kita harus terbangun dari alam mimpi yang ada pada kehidupan sehari-hari, kita harus melepaskan diri dari rasa ego agar dapat terbangun dan mencapai kebenaran illahi.

Semoga masing-masing dari kita dapat menuju jalan cahaya. Amien.🌠🌟✨

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s